Bokep Viral Indo Islam dan Pendidikan ngentot Berwawasan Kemanusiaan
17 mins read

Bokep Viral Indo Islam dan Pendidikan ngentot Berwawasan Kemanusiaan


Muka dan wibawa bangsa Indonesia dipermalukan oleh seorang predator seksual paling dahsyat abad ini. Ialah Reynhard Sinaga, pemuda non-Muslim berusia 36 tahun, Usul Indonesia Nan divonis bersalah berbarengan hukuman penjara seumur Hayati atas pemerkosaan terhadap 195 Pria di London Inggris. Raja pemerkosa di Eropa ini Tak hanya mencoreng Paras Indonesia, tetapi juga sebagai alarm dan sinyal kokoh terhadap bahaya LGBT, kelainan seksual Nan merupakan penyakit masyarakat klasik maupun modern.

Sedemikian bahayanya perilaku LGBT, sehingga keberadaan penganut LGBT terus meresahkan Penduduk masyarakat. keliru Esa data Konkret bahaya LGBT Ialah kasus ketua Ikatan Gay Tulungagung Jawa Timur (41 tahun) diamankan polisi dan diputuskan sebagai tersangka atas dugaan pencabulan terhadap 11 anak di bawah umur. Anak-anak Nan sebagai korban pencabulan dan pelecehan seksual itu “diiming-imingi” Duit sejumlah Rp. 150.000,- hingga Rp. 250.000,- (

Sungguh menjijikkan, Bengis, dan ahumanis perilaku kaum LGBT, sehingga sangat wajar perilaku menyimpang ini “mengundang” azab Allah SWT Nan  superdahsyat kepada kaum Nabi Luth berbarengan empat jenis azab sekaligus: Bunyi  Nan memekakkan telinga, gerimis batu, gempa sangat kokoh sehingga Membikin Seluruh Griya mereka “jungkir kembali; Nan di bawah sebagai di atas”; dan likuifaksi (Griya dan Seluruh penghuninya ditelan bumi), sehingga menyisakan Bahari Wafat. Sedemikian dahsyatnya bahaya LGBT, sehingga Nabi SAW menegaskan: “Apabila kalian menjumpai orang Nan mengerjakan perbuatan seperti kaum Nabi Luth AS (perilaku LGBT), maka bunuhlah sang pelaku maupun Nan mendukung atau mendiamkannya.” (HR at-Turmudzi dan al-Hakim).

internal perspektif psikologi, memperkosa sesama jenis merupakan perpaduan antara life instinct sekaligus death instinct. Robert Eipstein internal The Psychology Today  menegaskan bahwa kita ketika ini pas melimpah menghasilkan generasi sampah (trashing teen), dikarenakan generasi Matang cenderung manja, fasilitas Hayati serba tercukupi, kemandirian turun terbentuk,  “pembocahan”  dan Masa kanak-kanak diperpanjang. internal bahasa Religi, generasi milenial terlambat mendapatkan akil (kematangan dan kedewasaan merenung), tetapi terlalu Sigap sebagai baligh. Akibatnya, dikarenakan fase baligh secara fisik tiba extra permulaan, Fana fase akil merasakan pelambatan, maka nafsu syahwat extra dominan dipuaskan, tak memakai dikendalikan Budi sehat.

Sejumlah Soal terkait berbarengan kasus kelainan  seksual atau homoseksual paling menghebohkan sangat pas baik didiskusikan. Pertama, Kenapa seorang mahasiswa S3 (Program Doktor) di bangsa lain Mempunyai keberanian (kenekatan) eksternal Normal dan kebiasaan seksual Nan aneh tapi Konkret? Kedua, apa motif (dorongan) Nan menggerakkan sang predator ini berbuat asusila seperti perbuatan kaum Nabi Luth AS?

Ketiga, Kalau kelainan seksual itu terjadi dikarenakan diasumsikan “bekal ajaran Religi” Nan turun memadai dan model pendidikan ngentot Nan keliru, maka bagaimana Islam memberi solusi persoalan tersebut melalui pendekatan dan model pendidikan ngentot Nan berwawasan kemanusiaan, agar langkah LGBT Nan bersifat kebinatangan itu Tak sebagai penyakit menular Nan mendapatkan merusak platform kehidupan keluarga dan masyarakat. Keempat, model parenting dan pergaulan sosial seperti apakah Nan menurut Islam mendapatkan menjauhkan diri dari penyakit LGBT berikut efek negatifnya?

Pendidikan ngentot

Pendidikan ngentot (sex education) internal Islam bukan semata terkait berbarengan pengenalan pengetahuan (kognisi) tentang ngentot: anatomi, fisiologi, dan organ vital Orang. Pendidikan ngentot Nan pas melimpah dijadikan rujukan (referensi) pada umumnya berasal dari Barat Nan berititik tolak dari teori dan paradigma sekular, liberal, dan hedonistik. Atas identitas liberlisme dan kebebasan personal, pendidikan ngentot ala Barat Tak menitikberatkan kepada pencegahan pergaulan bebas dan haramnya Interaksi seksual di eksternal nikah, dikarenakan hal ini dipandang “bertentangan” berbarengan hak-hak asasi Orang (HAM). Paradigma pendidikan ngentot ala Barat Nan Tak landasi evaluasi-evaluasi moral dan Religi (Islam) tentu berakibat sangat negatif: pergaulan bebas, perzinahan (kumpul kebo), pornografi, pornoaksi, homoseksual, LGBT, dan ikutannya seolah sebagai Normal, lumrah, dan Tak boleh dicampuri.

Tentu saja, orientasi dan perilaku seksual menyimpang bukan hanya monopoli masyarakat Barat. Kasus LGBT dan penyimpangan seksual lain mendapatkan terjadi di mana dan Bilamana saja. Oleh dikarenakan itu, Krusial digarisbawahi bahwa pendidikan ngentot harus bertitik tolak dari filosofi tentang Orang sebagai hamba Allah dan khalifah-Nya di muka bumi. tempat Orang sebagai makhluk Allah paling mulia dan terhormat, dan pemahaman terhadap maksud pembumian syariat Islam (maqashid asy-syari’ah), Adalah memelihara Religi, Budi, jiwa, biaya diri (kehormatan), keturunan, harta Barang, dan lingkungan, sebagai keliru Esa pilar penyangga tegaknya pendidikan ngentot berwawsan kemanusiaan.

Oleh dikarenakan itu, pendidikan ngentot internal Islam Mempunyai multiorientasi: pengenalan (ta’rif), pembinaan (ri’Bapak), penguatan (ta’ziz), dan sekaligus pencegahan (wiqayah). Mengenalkan perbedaan anatomi tubuh lelaki dan Wanita, termasuk organ seksualnya, berbarengan alat peraga atau audio visual sangatlah simpel. Akan tetapi, pembinaan mental spiritual, pendidikan kesehatan reproduksi,  pemahaman terhadap penyakit berbahaya dikarenakan pergaulan bebas dan Interaksi seksual di eksternal nikah, seperti penyakit kelamin, AIDS, kanker rahim, dan sebagainya Tak terus simpel, dikarenakan menghedaki alur internalisasi, pendewasaan mental  dan pemikiran.

internal al-Mawsu’ah al-Muyassarah fi Tarbiyat al-Awlad (2015), Syahatah Muhammad Shaqar berpendapat bahwa pendidikan ngentot internal Islam itu telah dimulai sejak memutuskan dan meminang calon istri/suami berbarengan menjadikan baik Tak Religi (akhlak)  sebagai pertimbangan Primer. Ketika Kekasih suami istri telah terikat berbarengan akad nikah, maka interaksi suami-istri, termasuk Interaksi seksual, harus senantiasa didasarkan pada evaluasi-evaluasi Islam. Misalnya saja, sebelum mendatangi dan menggauli istrinya, maka keduanya harus Beribadah kepada Allah SWT, agar anak Nan lahir terhindar dari godaan setan. ketika  buah jiwa lahir, Islam sangat menganjurkan keliru Esa dari kedua orang tuanya mengumandangkan adzan pada telinga bayi. Setelah itu, anak harus diberi identitas Nan baik sekaligus diaqiqahi, sebar Nan Bisa. Ketika memasuki usia tertentu sebelum atau menjelang akil baligh, anak lelaki diwajibkan dikhitan, sebagai manifestasi pendidikan ngentot berwawasan kemanusiaan sekaligus berorientasi kesehatan. Dan ketika mendapatkan usia akil baligh, anak harus dipisah  kamarnya, Tak boleh istirahat sekamar berbarengan orang tuanya lagi.

internal perspektif Islam, pendidikan ngentot bukan hal tabu atau harus ditutup-tutupi, melainkan harus diperkenalkan dan disosialisasikan kepada anak, remaja, dan bahkan calon pengantin. Menurut al-Mushthafa al-Barjawi, internal tulisannya, at-Tarbiyah al-Jinsiyyah fi al-Islam: Qawa’id wa Dhawabith  (2009), pendidikan ngentot merupakan keliru Esa jenis Pendidikan Islam Nan membekali Perseorangan (anak, peserta didik, generasi Belia) berbarengan informasi ilmiah, pengalaman Nan baik, dan orientasi Nan presisi mengenai masalah ngentot, sesuai berbarengan  perkembangan fisik, fisiologis, mental, emosional, dan sosial, internal rangka internalisasi ajaran Religi, Kebiasaan-Kebiasaan sosial, evaluasi-evaluasi moral Nan Beraksi internal masyarakat, sehingga memungkinkan beradaptasi berbarengan baik terhadap berbagai kondisi ngentot dan mendapatkan menjalani persoalan-persoalan seksual di Masa saat ini dan mendatang berbarengan penyikapan Nan realistik menuju kesehatan jiwa.

Pendidikan ngentot internal Islam itu diarahkan kepada pembinaan pemeliharaan fitrah Orang, terutama fitrah instingtif (gharizah) sebagai Orang normal agar Tak terjadi penyimpangan orientasi seksual, penyakit kelamin, kesehatan reproduksi, dan penyakit sosial. Pendidikan ngentot internal Islam Tak hanya membentengi peserta didik agar Tak mengerjakan perbuatan keji: perzinahan, Interaksi seksual di eksternal nikah, tetapi juga memberi penyadaran dan pendewasaan para calon mempelai agar Mempunyai   kematangan dan kesiapan mental ciptakan menikah, menjalani kehidupan Griya tangga, dan sebagai orang Uzur.

Berwawasan Kemanusiaan

Menurut Shahid Athar, internal  Sex Education: An Islamic Perspective, pendidikan ngentot disalurkan di setiap sekolah Amerika, negeri atau swasta, dari kelas 2 hingga 12. Biaya pendidikan ngentot pada tahun 1990 Nan diproyeksikan mendapatkan $ 2 miliar per tahun. Guru diminta memberikan aspek teknis ngentot tak memakai memberi tahu siswa tentang evaluasi-evaluasi moral atau tapak Membikin keputusan Nan presisi. Setelah menguraikan anatomi dan reproduksi cowok dan wanita, penekanan Primer Ialah pada pencegahan penyakit kelamin dan kehamilan remaja. berbarengan meningkatnya AIDS, fokusnya Ialah pada ‘ngentot terlindungi’ Nan berarti Mempunyai kondom ada setiap kali seseorang memutuskan ciptakan mengerjakan Interaksi ngentot berbarengan seseorang Nan Tak dikenal. berbarengan Donasi dolar pajak kami, Sekeliling 76 sekolah di bangsa itu telah mulai membagikan kondom dan kontrasepsi tanpa biaya kepada mereka Nan kesana ke klinik kesehatan sekolah. Segera akan Eksis mesin penjual otomatis di lorong sekolah di mana ‘anak-anak’ mendapatkan mendapatkan kondom setiap kali mereka merasakan Mau berhubungan ngentot.

Demikianlah ilustrasi pendidikan ngentot di Amerika Perkumpulan berbarengan gersang evaluasi-evaluasi Religi dan moral, dikarenakan extra mengedepankan kebebasan Perseorangan dan HAM, liberalisme, dan sekularisme. Model pendidikan ngentot ala Amerika tersebut Jernih Tak berwawasan moral dan kemanusiaan universal, dikarenakan mereka Tak dibentengi iman dan moral. Mereka tetap “dibolehkan” bergaul bebas dan berzina, Usul memakai kondom agar terlindungi dan Tak terjadi kehamilan di usia remaja. Pendidikan ngentot ala Barat itu bebas evaluasi, tak memakai disertai Selera bersalah dan berdosa Kalau berzina, berhubungan seksual di eksternal nikah.

Hal tersebut berarti bahwa pendidikan ngentot Tak berwawasan kemanusiaan, melainkan berorientasi kebinatangan: ngentot bebas, tak memakai terikat oleh evaluasi dan akad nikah sesuai berbarengan ajaran Religi, apapun agamanya. internal hadir ini, Islam hadir berbarengan Paras dan orientasi evaluasi-evaluasi kemanusiaan Nan mengedepankan pentingnya menghormati institusi keluarga, biaya diri, harkat dan martabat Wanita. Oleh dikarenakan itu, Islam sangat protektif terhadap kesucian institusi Griya tangga, antara lain berbarengan melarang umatnya, misalnya “berdua-duaan” (lelaki dan Wanita Nan bukan mahram) dikarenakan ketiganya Ialah setan atau melarang mendekati perbuatan Nan berpeluang menyebabkan terjadinya perzinahan. “Dan janganlah Anda mendekati Lacur; sesungguhnya Lacur itu Ialah suatu perbuatan Nan keji. Dan suatu lorong Nan buruk.” (QS al-Isra’ [17]: 32).

Logika ushul fiqih internal memahami Bagian tersebut mengandung Makna bahwa “mendekati perbuatan Nan menjurus kepada Lacur saja dilarang, apalagi berzina langsung.” Bagian ini juga mengadung evaluasi pendidikan ngentot Nan berorientasi preventif (pencegahan) sekaligus penyelamatan Masa Ambang kemanusiaan. Bayangkan, Kalau pergaulan dan ngentot bebas tak memakai terikat  tali pernikahan ditolerir (dibebaskan), niscaya pas melimpah anak Nan lahir tak memakai Eksis kejelasan Bapak biologisnya Nan Absah, sehingga berakibat social seperti siapa  masalah wali pernikahan, kewarisan, dan sebagainya.

Kalau ditelaah extra terpencil, Kenapa Reynhard Sinaga Mempunyai keberanian (kenekatan) eksternal Normal dan kebiasaan seksual Nan aneh tapi Konkret? Maka boleh jadi keliru Esa sebabnya Ialah kegagalan pendidikan Religi, terutama pendidikan akidah Nan Tak fungsional, Tak Bisa membentengi dirinya dari godaan hawa nafsu dan syahwat seksual Nan menyimpang, dan Tak merasakan khawatir kepada adzab Allah. Tampaknya pola Hayati glamor, keterlambatan berakal sehat, dan pengaruh lingkungan sosial Nan liberal dan sekular juga membentuk orientasi dan perilaku LGBT. Oleh dikarenakan itu, Nabi SAW bersabda: “Setiap anak dilahirkan berbarengan fitrahnya (bertauhid, beragama, berpola Hayati Higienis dan sehat). Lampau, kedua orang tuanyalah (baik orang Uzur biologis maupun orang Uzur sosiologis) Nan menjadikannya seperti Yahudi, Nasrani, atau Majusi” (HR al-Bukhari dan Muslim). Hayati di lingkungan sosial kaum Gay dikarenakan loyo iman, Tak Mempunyai Selera muraqabatullah (internal monitoring Allah), dan liberlisme gaya Hayati Nan Tak terkendali sebagai akumulasi Unsur penyebabnya.

Oleh dikarenakan itu, Islam sangat Acuh terhadap lingkungan pergaulan anak, Tak hanya pergaulan sosial tetapi juga pergaulan internal Bumi maya dan media sosial. Bergaul berbarengan Musuh jenis dibolehkan, namun dibatasi, dikendalikan, dan diatur sesuai berbarengan Kebiasaan-Kebiasaan Islam. internal berpakaian, berbusana, berpenampilan, dan berpergaulan sosial, Islam memerintahkan umatnya ciptakan mengakhiri aurat, baik lelaki maupun Wanita, sesuai batas-batas Nan telah diputuskan. mengakhiri aurat, memakai busana Nan Tak ketat dan/atau tembus pandang, Tak berlebihan internal berhias, dan sebagainya tentu dimaksudkan sebagai bagian dari pendidikan ngentot Nan berorientasi perlindungan (Perlindungan) dan pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya penyimpangan perilaku seksual.

Wawasan kemanusiaan internal pendidikan ngentot internal Islam Tak hanya ditunjukkan melalaui Perlindungan biaya diri, harkat martabat, dan Masa Ambang institusi Griya tangga, melainkan juga diaktualisasikan internal bentuk afirmasi dan edukasi evaluasi pembentukan Griya tangga melalui lembaga pernikahan Nan Absah (Absah) atas Asas percintaan kasih (mawaddah wa rahmah). Orientasi pendidikan ngentot Nan berwawasan kemanusiaan internal Islam  Tak hanya diletakkan internal konteks  pengembangan  silarurrahim dan kekerabatan berbasis akidah tauhid, tetapi juga internal rangka mewujudkan Selera kemanusiaan Nan adil dan beradab. Niat, motif, maksud, dan orientasi membentuk Griya tangga melalui ikatan Kudus pernikahan Ialah melahirkan keluarga sakinah, gembira Bumi dan akhirat, bukan sekadar ciptakan melegalkan Interaksi seksual suami dan istri.

Berwawasan kemanusiaan internal pendidikan ngentot, baik sebar remaja maupun orang Matang, diaktualisasikan berbarengan memelihara pandangan mata, mengendalikan nafsu syahwat, dan menjauhkan diri dari hal-hal Nan menjerumuskan seseorang kepada perbuatan Lacur. Oleh dikarenakan itu, keliru Esa Karakteristik atau indikator Mukmin Mujur Ialah “orang Nan memelihara kontol” (QS. Al-Mukminun/23: 5), memelihara kesucian diri dan kehormatannya berbarengan mengakhiri aurat, Tak memasuki Griya orang lain tak memakai pengesahan (QS an-Nur/24:28). Mukmin lelaki dan Wanita terus diperintahkan ciptakan memelihara pandangan mata dan memelihara kontol dikarenakan Nan demikian itu extra Kudus (QS. An-Nur/24: 30-31).  berbarengan ucapan lain, evaluasi kemanusiaan dan moral universal berbarengan memelihara kesucian dan biaya diri, memelihara pandangan dan mengakhiri aurat merupakan model pendidikan ngentot internal Islam Nan eksternal Normal menyelamatkan Masa Ambang umat Orang.

pas baik direnungkan Seiring, betapa mereka Nan terjangkiti virus pergaulan bebas, perzinahan, pornografi, pornoaksi, langkah dan gerakan LGBT sedang membunuh Masa Ambang mereka seorang diri sekaligus sedang “mengundang” adzab Allah SWT. Di sejumlah bangsa Barat, pas melimpah orang memutuskan Hayati berbarengan “kumpul kebo”, atau sekurang-kurangnya “kumpul kebo” extra masa lalu (dan apabila pas dilanjutkan berbarengan menikah; dan Kalau Tak pas, mengubah Kekasih mutakhir) daripada menikah secara Absah menurut legalitas Religi dan/atau bangsa. Kebebasan Perseorangan berbarengan pijakan dasarnya penghormatan terhadap HAM Membikin orientasi seksual menyimpang tumbuh subur sebagai manifestasi dari kebebasan HAM dan privasi Perseorangan Nan Tak boleh diganggu-gugat oleh siapapun.

Akhlak Mulia

Islam hadir melalui Nabi Muhammad SAW Ialah ciptakan menyelesaikan akhlak mulia (HR Malik), mewujudkan rahmat Islam internal bentuk peradaban umat Orang Nan agung, luhur, berkeadaban, bukan sekadar maju dan sejahtera secara sains dan teknologi, tetapi akhlaknya rusak, bejat, dan berperilaku seperti binatang. Kemuliaan dan keagungan Orang itu terletak pada akhlaknya. Oleh dikarenakan itu, Nabi SAW menegaskan bahwa “Mukmin Nan paling sempurna imannya Ialah Nan paling baik atau paling mulia akhlaknya” (HR Muslim).

Pendidikan ngentot internal Islam sejatinya merupakan pendidikan akidah, pendidikan ibadah, dan pendidikan mumalah hasanah (pergaulan dan interaksi sosial Nan baik, santun, bermartabat) berbarengan menjadikan Etika dan akhlak mulia sebagai mahkotanya. Pergaulan sosial, terutama antara lelaki dan Wanita, diatur dan dikendalikan sedemikian rupa, bukan ciptakan mengekang Orang, tetapi demi mewujudkan kemasalahatan Hayati Orang, memelihara harkat dan martabat kemanusiaan, Tak mendegradasi evaluasi kemuliaan Orang, sehingga berperilaku seperti binatang buas atau binatang jalang. Istilah “kumpul kebo” menguraikan betapa akhlak Orang Nan jatuh jiwa berzina itu seperti binatang bernama kebo, Tak Mempunyai Selera malu dan Tak merasakan Mempunyai biaya diri.

berbarengan ucapan lain, pendidikan ngentot berwawasan kemanusiaan internal Islam, di Esa segi dimaksudkan ciptakan menumbuhkan Selera malu positif internal rangka memelihara kesucian dan biaya diri; dan di segi lain menjaga dan menyelamatkan Masa Ambang umat Orang melalui ikatan pernikahan dan pengembangan institusi sosial berupa Griya tangga Nan sakinah, mawaddah wa rahmah (Tenteram, tenteram, penuh percintaan kasih dan kasih mengasihi). Oleh dikarenakan itu, standar Primer Nan harus dijadikan modal pembangunan Griya tangga Ialah kemuliaan akhlak dan kematangan beragama, bukan semata: kecantikan atau ketampanan, kekayaan, dan keturunan. evaluasi-evaluasi Religi dan akhlak mulia Ialah Tembok kemuliaan dan kesucian diri Nan mendapatkan menyelematkan Mukmin dari perilaku tercela dan menyimpang, termasuk penyakit LGBT.

Akhirul kalam, pendidikan ngentot internal Islam bukan semata persoalan mengajarkan bagaimana berhubungan ngentot secara terlindungi meski tak memakai ikatan pernikahan (kumpul kebo), tetapi bagaimana mengokohkan fundamental akidah tauhid berbarengan pendidikan akidah Nan lurus dan presisi, fundamental mental spiritual berbarengan pendidikan ibadah Nan fungsional dan bukan sekadar ritual, dan fundamental sosial berbarengan pendidikan muamalah hasanah dan akhlak karimah, terutama internal interaksi sosial antara orang Uzur berbarengan anak, anak berbarengan sesama, dan Penduduk masyarakat. Pendidikan ngentot bukan sekadar mengenalkan organ vital, alat reproduksi, dan anatomi fisik dan fisiologis dua insan Nan berbeda kelaminnya, melainkan bagaimana membina, memperbaiki, dan memelihara kesucian diri berbarengan akhlak mulia, Selera malu, Selera berbuat dosa, dan merasakan diawasi oleh Allah SWT internal pergaulangan dan Interaksi sosial agar Tak menyimpang dari Kebiasaan Religi dan etika.

Pendidikan ngentot berwawasan kemanusiaan internal Islam akan berhasil dan berakibat positif sebar umat Orang, apabila Seluruh menyadari bahwa Hayati gembira internal Islam itu bukan sekadar  mereguk kenikmatan berbarengan melampiaskan hawa nafsu dan syahwat birahi tak memakai kontrol, tetapi Hayati gembira itu harus memelihara fitrah kemanusiaan berbarengan menaati evaluasi-evaluasi Religi internal kehidupan personal dan sosial. Islam ditegaskan hadir berbarengan perangkat evaluasi paling sempurna internal menata Interaksi sosial berbarengan pendidikan ngentot Nan bervisi kemasalahatan dan kebahagiaan Masa Ambang umat Orang. Praktik, langkah, dan gerakan LGBT selain Tak sesuai berbarengan pendidikan ngentot internal Islam, juga bertentangan berbarengan fitrah kemanusiaan Nan presisi dan mulia. Melalui pendidikan ngentot berwawasan kemanusiaan, LGBT harus dikikis habis dikarenakan sangat membahayakan Masa Ambang umat Orang dan sangat potensial menyuguhkan adzab Allah SWT. Wallahu a’lam bi ash-shawab!

Dr Muhbib Abdul Wahab MAg, Ketua Prodi Magister Pendidikan Bahasa Arab FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Wakil Ketua Imla Indonesia. Sumber: Majalah Tabligh No.2/XVIII Februari 2020. (lrf/mf)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *