Bokep Viral Indo sunyi Nan MERUSAK KU – ASUPAN romansa Matang
28 mins read

Bokep Viral Indo sunyi Nan MERUSAK KU – ASUPAN romansa Matang


sunyi itu semilir kencang dan gerimis deras mengguyur Griya kami Nan praktis di pinggiran Jakarta. Suamiku, seorang pegawai kantor, telah dua Pekan lamanya kesana dinas ke kota lain, meninggalkanku sendirian berdua Selera kesepian Nan makin masa makin membara di dada. Namaku Lestari, tiga puluh Esa tahun, seorang Bunda Griya tangga Normal berdua tubuh Nan pas berlimpah Pria pandang tenteram-tenteram. Kulitku putih mulus seperti susu segar, rambut hitam lebar lurus Tiba pinggang, payudaraku Akbar bulat kencang berdua pentil cokelat Belia Nan terus mengeras ketika sangek, pinggulku lebar mengundang, pantatku montok kenyal Nan bergoyang pelan ketika Melangkah, bibirku padat merah alami, dan mataku Nan sipit Membikin wajahku terlihat menggoda meski Saya terus Berjuang sopan. sunyi itu Saya hanya memakai daster katun gampang tak memakai kutang dikarenakan udara gerah lembab, dan sempak Mini Nan Nyaris tak ditutup. seketika listrik padam jumlah dikarenakan badai. Griya suram gulita, Saya ketakutan sendirian. berdua tangan gemetar Saya tarik senter Mini dan berlari kencang ke Griya sebelah, Griya Pak Joko, tetangga duda berusia empat puluh dua tahun Nan tubuhnya kekar berotot seperti mantan pekerja keras. Saya ketuk gerbang berdua Bunyi pelan.

Asupan romansa Matang

gerbang ada Sigap. Pak Joko tegak di ambang, tubuhnya becek kuyup dikarenakan gerimis, baju kaos gampang menempel di dada bidang dan perut kerasnya Nan penuh otot. Matanya langsung menyusuri tubuhku dari atas ke bawah, berhenti lamban di dada ku Nan tak memakai penutup, putingku menonjol Jernih di balik kain gampang. “Lestari, Eksis apa sunyi-sunyi begini?” suaranya berat banget dan bagian dalam, Membikin bulu kudukku tegak. Saya menunduk, mengalami pipiku gerah. “Listrik padam, Pak. Griya suram sekali. Boleh tolong periksa sekringnya?” kataku berdua Bunyi bergetar. Beliau tersenyum tipis gampang, tatapannya Tetap lapar. “Masuklah masa lalu. Badanmu menggigil kedinginan. Saya tarik senter Akbar.”
Saya melangkah memasuki ke rumahnya Nan juga praktis. amis keringat Pria bercampur aroma gerimis menyengat hidungku, Membikin perutku bergejolak aneh. Beliau Melangkah di depanku, punggung lebarnya Nan becek Membikin dasterku terasa makin gampang. ketika Saya dudukin di kursi kayu, Beliau mendekat dan “tak sengaja” lengannya menggesek pinggangku. Sentuhan itu gerah seperti api, Membikin memekku berdenyut pelan. Saya Sigap pas baik tarikan napas, Berjuang tenteram. bagian dalam batin Saya merenung, telah berbulan-purnama suamiku tak menyentuhku, dan sekarang tubuhku bereaksi hanya dikarenakan pandangan tetangga ini. Saya malu sekali, tapi Selera penasaran itu mulai merayap.

Pak Joko memungut tangga dan melonjak ke Asbes melalui celah belakang ciptakan memeriksa sekring. Saya tegak di bawah, meraih senter untuknya. semilir sunyi meniup dasterku hingga melonjak terbatas, memperlihatkan paha dalamku Nan putih mulus. Matanya dari atas langsung tertuju ke sana. “Lestari, Anda sendirian berikut ya? Suami sering kesana, Iba tubuh montok seperti ini dibiarkan sendirian,” katanya Sembari tersenyum tipis Bandel. ungkapan-katanya ambigu, tapi nada suaranya Membikin dadaku berdegup kencang. Payudaraku terasa berat banget, putingku makin mengeras. Saya merespons pelan, “Iya Pak, telah Normal. Tapi sunyi seperti ini merasa ngeri sendirian.” Beliau anjlok pelan, tangannya lagi-lagi “tak sengaja” mengusap pinggulku ketika melangkah anjlok. Kali ini sentuhannya extra lamban, jarinya mengusap pelan kulitku. Tubuhku menggigil Lezat, dan Saya merasakan cairan emosi kehangatan mulai membasahi Lancingan dalamku. Memekku telah licin, Saya malu sekali tapi tak mendapatkan berhenti membayangkan tangan kasarnya meremas payudaraku Nan Akbar itu.

Kami kembali ke ruang tamu. Beliau minta Saya dudukin tidak terpencil Sembari seruput air emosi kehangatan Nan Beliau Lakukan. Kaki kami bersentuhan di bawah meja kayu. Saya tak nekat pas baik, malah mengalami gerah menyebar ke seluruh tubuh. “Badanmu menggoda sekali sunyi ini, Lestari. Daster gampang begitu, putingmu kelihatan Jernih,” katanya pelan, matanya tak biar dari dada ku. Saya merona hebat, tanganku gemetar meraih gelas. bagian dalam batin Saya berteriak, ini tidak presisi, Saya istri orang, tapi kenapa memekku makin banjir? Saya membayangkan kontolnya Nan Niscaya Akbar dan padat, menusuk bagian dalam-bagian dalam. telah lamban Saya mengusap diri sendirian di Bilik suram, membayangkan Pria seperti Beliau menghancurkan kesepianku. Saya merasa ngeri, tapi Selera Dahaga itu makin kokoh.
Pak Joko makin mendekat. “Kalau butuh apa pun, panggil Saya saja. Saya sedia bantu Anda Bilamana saja, sinar atau sunyi,” katanya Sembari tangannya saat ini sengaja meletak di paha ku. Jarinya mengusap pelan melonjak ke atas. Saya menahan tarikan napas, tubuhku gerah sekali. “Pak… jangan,” kataku rapuh, tapi suaraku tak meyakinkan. Beliau tersenyum tipis, “Anda telah becek ya? Saya lihat dari matamu.” Saya tak mendapatkan Dusta lagi. Memekku banjir, cairan licin menetes pelan ke paha. Saya malu, merasa ngeri, tapi penasaran Nan membara membuatku tak Beralih. gerimis makin deras, Bunyi gemuruhnya menutupi desir napasku Nan mulai tersengal.
seketika Beliau tegak, pas baik tanganku pelan tapi pastikan. “Jangan Dusta lagi, Lestari. Badanmu minta disentuh.” Saya tegak gemetar, payudaraku melonjak anjlok Sigap. Beliau menarikku ke pelukannya, tubuh kekarnya menekan dada ku. Saya merasakan tonjolan Akbar di celananya menekan perutku. Itu kontolnya, lebar dan padat, berdenyut gerah. Saya merasa ngeri tapi Lezat. “Pak… Saya telah bersuami,” bisikku rapuh. Tapi tangannya telah meremas payudaraku keras, jempolnya memilin pentil cokelatku. Selera sakit Lezat menyebar, Membikin memekku makin licin. Saya tak mendapatkan menolak lagi.

Pak Joko tak memberi kesempatan menolak lagi. Bibirnya langsung menyerbu bibir tebalku, ciuman ganas dan becek. Lidahnya menyusup memasuki, mencicipi Selera mulutku Nan menarik. Saya balas tak memakai sadar, tanganku meraih bahunya Nan berotot. Beliau menggigit bibir bawahku pelan, Lampau anjlok ke leher, menggigit dan menghisap hingga meninggalkan bekas merah. “Anda telah lamban Dahaga ya, jalang Mini,” bisiknya keras tapi seksi di telingaku. Tangan kasarnya merobek dasterku hingga ada, payudaraku Nan Akbar bulat langsung terpampang. Beliau meremas keduanya keras, jari-jarinya tenggelam di daging kenyal itu. Putingku ditarik dan dipilin, Selera gerah dan nyeri bercampur Lezat membuatku mendesah keras. “Ahh… Pak… sakit tapi Lezat,” keluhku. amis keringatnya Nan kokoh bercampur aroma memekku Nan telah segar menarik memenuhi ruangan.

Beliau mendorongku ke sofa kayu, mengakses Lancingan dalamku keras. Jarinya langsung menyusup ke memekku Nan becek licin. Tiga jari sekaligus memasuki bagian dalam-bagian dalam, mengaduk cairan panasku. Bunyi cipratan becek terdengar Jernih di antara deru gerimis. “Lihat, memekmu banjir banget. telah lamban tak diisi kontol ya?” katanya Sembari menggerakkan jari Sigap. Saya menggeliat, pinggulku melonjak anjlok sendirian. “Ya Pak… Saya malu… tapi jangan berhenti…” desahku. Beliau terbahak pelan, Lampau pas baik celananya. Kontolnya melompat melangkah keluar, lebar Nyaris dua puluh senti, padat berdua urat-urat menonjol dan kepala merah mengkilap. Saya terpana, merasa ngeri tapi Mau sekali.

Pak Joko meraih kepalaku, mendorong kontolnya ke mulutku. “Hisap bagian dalam, jalang. Rasakan kontol tetanggamu.” Saya mengakses bibir lebar, deepthroat keras hingga ujungnya mengusap tenggorokanku. Selera Masin dan gerah memenuhi lidahku, air liurku menetes deras. Beliau mendorong pinggulnya, mengentot mulutku berdua ritme Sigap. Saya tersedak tapi Lezat, memekku makin banjir. Setelah puas, Beliau menarikku tegak, membalik tubuhku, dan menginput kontolnya dari belakang bagian dalam Esa hentakan keras. “Ahhh!” jeritku tertahan. Memekku terbelah lebar, Selera penuh dan gerah Membikin tubuhku gemetar. Beliau mulai ngentot brutal, Bunyi plok-plok becek memenuhi ruangan. Pantatku montok bergoyang hebat setiap hantaman. Tangan kanannya meremas payudaraku, tangan kiri mencekik leherku tidak berat banget. “Bilang Anda milik kontolku sekarang, Lestari!” perintahnya. Saya terisak Lezat, “Iya Pak… Saya milik kontolmu… ngentot Saya extra keras lagi!”

Beliau menukar letak, membaringkanku di lantai, mengangkat kakiku menjulang dan menyetubuhi lagi bagian dalam letak misionaris. Kontolnya menghantam titik paling bagian dalam, membuatku orgasme pertama. Cairan memekku menyembur squirt, membasahi perutnya. “Lihat, Anda squirt seperti lonte,” katanya Sembari berikut menghantam. Saya lemas tapi Beliau tak berhenti, membalikku ke doggy, menampar pantatku keras hingga merah. Spanking berulang membuatku makin becek. Lampau Beliau menguji lubang belakangku pelan, anal tidak berat banget Nan membuatku jerit kesakitan Lezat. “Pelan Pak… ahh… Lezat sekali…” Saya orgasme lagi, tubuhku kejang-kejang.

Beliau tarik melangkah keluar, memutar tubuhku ke letak cowgirl. Saya melonjak anjlok sendirian di atas kontolnya, payudaraku bergoyang liar. “Goyang extra Sigap, budak kontolku!” perintahnya. Saya memohon, “Mas… hancurkan memekku… isi Saya berdua air mani panasmu!” Beliau mendorong pinggulnya dari bawah, menghantam bagian dalam. Orgasme ketiga dan keempat terlihat bertubi, Saya squirt lagi hingga lantai becek. pada akhirnya Beliau mengerang keras, menyemburkan air mani panasnya bagian dalam-bagian dalam ke memekku. Creampie pertama terasa penuh dan emosi kehangatan, air mani menetes melangkah keluar ketika Beliau tarik kontolnya. Tapi Beliau belum puas, menyembur lagi di wajahku dan payudaraku Nan Akbar. Selera Masin air mani di lidahku membuatku ketagihan.

Saya tergeletak lemas, tubuh gemetar, memekku bengkak merah dan penuh air mani. Pak Joko tersenyum tipis puas, mengusap rambutku. “Anda sekarang budakku, Lestari. Besok sunyi Saya terlihat lagi… berdua temanku. Anda akan layani kami berdua sekaligus.” Mataku melebar, merasa ngeri tapi nafsu anyar telah tegak. Saya tak mendapatkan menolak. sunyi ini telah merusakku tak berakhir.

Pak Joko tak memberiku Masa istirahat lamban. Beliau angkat tubuhku Nan lemas ke Bilik rehat, meletakkan di ranjang kayu. Kontolnya Nan Tetap Separuh tegang kembali mengeras ketika menyaksikan memekku Nan merah bengkak dan menetes air mani. “Anda belum puas kan, jalang?” tanyanya Sembari mengikat tanganku ke kepala ranjang berdua ikat pinggangnya. Bondage tidak berat banget ini membuatku mengalami tak berdaya tapi makin becek. Beliau tarik lilin dari meja, menyalakan dan meneteskan lilin gerah ke payudaraku. Selera gerah menyengat putingku, bercampur Lezat. Saya melenguh keras, “Ahh Pak… sakit… tapi Saya tertarik…” amis lilin bercampur amis air mani dan keringat memenuhi hidungku.

Beliau masukkan dua jari lagi ke memekku, mengaduk air mani creampie Nan Tetap Eksis, Lampau menambah Esa jari ke lubang belakang. Double penetration jari membuatku orgasme kelima, squirt menyembur ke wajahnya. Beliau menjilat cairanku berdua rakus, Selera menarik Masin memekku membuatnya makin ganas. Lampau Beliau melonjak lagi, ngentot anal extra bagian dalam kali ini Sembari choking leherku extra kokoh. Bunyi desahanku tertahan, tubuhku kejang Lezat. menukar letak lagi ke standing doggy di Ambang cermin, Saya menyaksikan sendirian wajahku memerah, buah dada bergoyang, lobangpipis dan pantatku dihantam bertubi. “Lihat dirimu, Lestari. Anda telah jadi lonte tetangga,” katanya Sembari menampar pantatku berulang.

Saya memohon tak memakai malu lagi, “Mas… ngewe Saya berikut… hancurkan Seluruh lubangku… Saya budak kontolmu tak berakhir!” Beliau menyembur air mani kedua di bagian dalam analku, Lampau melangkah keluar dan creampie lagi di memekku. air mani menetes deras ke lantai, amis asinnya kokoh. Saya orgasme terakhir hingga pingsan Sejenak, tubuh lemas jumlah. ketika sadar, Beliau memelukku pelan, mengusap rambutku. “Besok sunyi pukul delapan, Saya dan temanku terlihat. Siapkan tubuh montokmu. Anda tak boleh menolak lagi.” Saya mengangguk rapuh, batin dan tubuhku telah ketagihan. sunyi Nan merusakku ini anyar permulaan.

Pagi setelah sunyi itu, tubuhku terasa remuk. Setiap Mobilitas Mini Membikin lobangpipis dan lubang belakangku berdenyut sakit Lezat. air mani Pak Joko Tetap menempel kering banget di buah dada dan wajahku ketika Saya bersih-bersih pagi. Saya memandang cermin, menyaksikan bekas merah di leher, pinggul, dan pantat montokku Nan penuh cap tangan. Putingku Tetap bengkak, sensitif sekali hingga hanya hembusan semilir pun membuatku menggigil. Saya malu, tapi di antara Selera bersalah itu, Eksis getaran aneh Nan berikut berdenyut di bawah perut. Saya telah ketagihan. Saya tahu sunyi ini Beliau akan terlihat lagi… Seiring temannya.

Sepanjang masa Saya Bimbang. Suamiku menelepon Sejenak, bertanya kabar berdua Bunyi Capek. Saya merespons Normal, “baik-baik saja, Mas. kangen.” Tapi pikiranku melayang ke kontol padat Pak Joko Nan menghancurkan tubuhku semalam, ke Selera penuh ketika air mani panasnya memenuhi rahimku. Saya becek lagi hanya berdua mengingatnya. sinar menjelang sore Saya membersihkan Griya, tapi tanganku gemetar. Saya memakai daster anyar Nan extra pendek, tak memakai kutang lagi, tak memakai sempak. Saya tahu apa Nan akan terjadi sunyi ini. Saya Mau sedia.

Pukul delapan Pas, ketukan pelan di dubur. Jantungku berdegup kencang. Saya mengakses gerbang pelan. Pak Joko tegak di sana, tersenyum tipis puas, di sampingnya seorang Pria extra Belia, mungkin tiga puluh lima tahun, tubuhnya extra ramping tapi berotot kencang, kulit sawo matang, rambut Pendek pendek. Namanya Andi, katanya Pak Joko Sembari memasuki tak memakai permisi. Andi memandangku dari atas Tiba bawah, matanya langsung tertuju ke buah dada Nan menonjol di balik kain gampang. “Ini Nan Anda ceritakan, Mas Joko? Montok banget ya,” katanya Sembari menjilat bibir. Saya menunduk, pipiku gerah, tapi memekku telah mulai berdenyut lagi.

Mereka memasuki ke ruang tamu. Lampu redup, hanya Sinar lampu rehat kuning Nan Membikin jejak gelap tubuhku terlihat extra menggoda. Pak Joko langsung dudukin di sofa, menarikku ke pangkuannya. “sunyi ini Anda layani kami berdua, Lestari. Jangan menolak. Anda telah berjanji jadi budak kontolku.” Suaranya pastikan, tapi Eksis nada mesra Nan membuatku lemas. Andi tegak di Ambang, mengakses kancing celananya pelan. Kontolnya telah Separuh tegang, extra lebar dari Pak Joko meski tak se-padat, mungkin dua puluh dua senti, urat-uratnya menonjol Jernih. Saya menelan ludah, merasa ngeri tapi Dahaga.

Pak Joko merobek dasterku dari belakang bagian dalam Esa tarikan. Payudaraku Nan Akbar terbebas, bergoyang pelan. Andi langsung mendekat, meremas keduanya keras Sembari menciumi putingku. Lidahnya berputar di Sekeliling pentil cokelatku Nan telah mengeras, Lampau menggigit pelan. Selera nyeri Lezat membuatku mendesah keras. “Ahh… pelan Mas…” keluhku. Pak Joko terbahak Mini, tangannya telah menyusup ke antara pahaku, jari tengahnya langsung memasuki ke memekku Nan telah licin. “telah becek dari tadi ya, jalang. Memekmu memang Dahaga kontol.”

Andi mendorong kepalaku ke bawah. “Hisap kontolku masa lalu, biar keras.” Saya mengakses bibir lebar, menelan kepala kontolnya Nan gerah. Selera Masin dan maskulin memenuhi lidahku. Saya mengulum bagian dalam-bagian dalam, lidahku berputar di Sekeliling batangnya. Pak Joko dari belakang menginput dua jari ke memekku, mengaduk Sigap hingga Bunyi cipratan becek terdengar Jernih. Andi mendorong pinggulnya, deepthroat keras hingga Saya tersedak, air liur menetes ke dagu. “baik… mulutmu Lezat sekali,” desir Andi Sembari meraih rambutku.

Mereka bergantian. Pak Joko menarikku tegak, membalik tubuhku, Lampau menyetubuhiku dari belakang Sembari tegak. Kontol tebalnya menghujam memasuki bagian dalam Esa dorongan keras. “Ahhh!” jeritku tertahan. Andi tegak di Ambang, menginput kontolnya ke mulutku lagi. Saya sekarang diapit dua kontol: Esa mengentot memekku brutal dari belakang, Esa lagi mengentot mulutku dari Ambang. Bunyi plok-plok becek bercampur desahan dan erangan mereka. Payudaraku bergoyang liar setiap hantaman. amis keringat Pria, aroma memekku Nan segar menarik, dan amis air mani mulai memenuhi ruangan.

Pak Joko pas baik melangkah keluar, membaringkanku di lantai. Andi melonjak ke atas, menginput kontol panjangnya ke memekku bagian dalam letak misionaris. Beliau ngentot Sigap dan bagian dalam, menghantam titik G-ku berulang kali. Saya orgasme pertama sunyi itu, cairan memekku menyembur squirt ke perut Andi. “Lihat, Beliau squirt lagi,” ungkapan Pak Joko Sembari terbahak. Andi berikut menghantam, Lampau pas baik melangkah keluar dan menginput ke lubang belakangku pelan. Anal berdua kontol Nan extra lebar terasa extra menyakitkan, tapi nikmatnya bagian luar Normal. Saya menjerit, “Sakit… tapi Lezat… berikut Mas!”

Pak Joko melonjak ke wajahku, menginput kontolnya ke mulutku lagi. Double penetration sungguhan: Andi di lubang belakang, Pak Joko di bibir. Tubuhku digoyang-goyangkan seperti boneka. Saya orgasme kedua, ketiga, keempat bertubi-tubi. lobangpipis dan pantatku bengkak merah, penuh cairan. Mereka menukar letak lagi: Saya dudukin di atas Pak Joko bagian dalam letak cowgirl, kontol tebalnya menginput memekku penuh. Andi dari belakang menginput kontolnya ke lubang belakangku. Double penetration penuh, dua kontol sekaligus menginput dua lubangku.

Selera penuh bagian luar Normal membuatku terisak Lezat. “Hancurkan Saya… isi Saya berdua… Saya budak kalian!” jeritku tak memakai malu lagi. Mereka ngentot Sesuai, Bunyi plok-plok becek dan desahan keras memenuhi ruangan. Payudaraku diremas keras, putingku dipilin, leherku dicekik tidak berat banget. Saya squirt lagi, kali ini deras Tiba membasahi paha mereka. pada akhirnya Pak Joko mengerang keras, menyemburkan air mani panasnya bagian dalam-bagian dalam ke memekku. Andi membuntuti, creampie di lubang belakangku. air mani menetes melangkah keluar dari kedua lubangku, bercampur cairan memekku Nan licin.

Mereka tarik melangkah keluar, menyemburkan Residu air mani ke Paras, buah dada, dan perutku. Saya tergeletak lemas, tubuh gemetar, tarikan napas tersengal. air mani Masin menempel di bibirku, Saya menjilatnya pelan tak memakai sadar. Pak Joko mengusap rambutku, “baik, Lestari. Anda telah jadi budak sempurna.” Andi tersenyum tipis, “Besok sunyi lagi ya? Kali ini Saya bawa Esa temen lagi. Tiga kontol Lakukan lobangpipis dan pantat montokmu.”

Saya tak mendapatkan berucap, hanya mengangguk rapuh. Tubuh dan pikiranku telah rusak jumlah. sunyi Nan merusakku ini tak akan pernah berakhir.

masa itu berlalu seperti angan buruk Nan menarik. Tubuhku Tetap terasa penuh bekas sunyi lebih masa lalu: lobangpipis dan lubang belakangku bengkak, sensitif sekali hingga setiap jejak Membikin cairan licin menetes pelan ke paha bagian dalam. Payudaraku penuh cap jari merah keunguan, pentil cokelatku keras dikarenakan digigit dan dipilin berulang. Saya bersih-bersih berkali-kali, tapi amis air mani Masin dan keringat Pria Tetap melekat di kulitku. Saya tak mendapatkan berbohong lagi pada diri sendirian—Saya menantikan sunyi ini. Ketika jam menunjukkan pukul tujuh sunyi, Saya telah sedia. Daster hitam gampang tak memakai apa pun di bawahnya, rambut terurai lebar, bibir merah padat Saya poles terbatas lipstik merah darah. Saya tahu mereka akan terlihat bertiga.

Ketukan pelan di dubur pukul delapan Pas. Saya mengakses berdua tangan gemetar. Pak Joko tegak di Ambang, di sampingnya Andi, dan Pria ketiga Nan belum pernah kulihat. Namanya Dedi, katanya Pak Joko Sembari tersenyum tipis puas. Dedi extra Belia lagi, mungkin mula tiga puluhan, tubuhnya paling berotot di antara mereka, dada bidang penuh bulu halus, lengan kekar seperti tukang angkat besi. Matanya langsung menelanjangiku, berhenti lamban di buah dada Nan menonjol dan pinggul lebarku. “Ini Nan katanya montok dan Dahaga kontol ya, Mas Joko?” suaranya keras, penuh nafsu. Saya menunduk, tapi memekku telah berdenyut kokoh, cairan emosi kehangatan mulai membasahi paha bagian dalam.

Mereka memasuki tak memakai berucap pas berlimpah. Lampu ruang tamu Saya redupkan, hanya Sinar lilin Mini Nan berkedip-kedip. amis minyak wangi ekonomis dari tubuh mereka bercampur aroma gerimis sunyi Membikin udara terasa berat banget dan gerah. Pak Joko langsung menarikku ke inti ruangan, mendorongku Menyerah di karpet. “sunyi ini Anda layani kami bertiga, Lestari. Tak Eksis oposisi. Anda budak kontol kami sekarang.” Saya mengangguk rapuh, mata berkaca-kaca dikarenakan campuran merasa ngeri dan Dahaga Nan membara.

Andi mengakses celananya extra masa lalu. Kontol panjangnya telah tegak penuh. Dedi membuntuti, kontolnya padat pendek tapi sangat Akbar kepalanya, seperti tinju Mini. Pak Joko Nan terakhir, kontol padat berurat Nan telah kukenal baik. Ketiganya tegak mengelilingiku. Saya mengalami Mini, tak berdaya, tapi itu Malah Membikin memekku makin banjir.

“Mulai dari mulutmu masa lalu,” perintah Pak Joko. Saya mengakses bibir lebar. Andi menginput kontolnya extra masa lalu, deepthroat keras hingga tenggorokanku terasa penuh. Air liur menetes deras ke dagu. Dedi menggantikan, kontol tebalnya memaksa mulutku ada lebar, Selera Masin kokoh memenuhi lidah. Pak Joko menyusul, mendorong pinggulnya hingga hidungku menempel di perutnya. Mereka bergantian mengentot mulutku, tangan mereka meraih rambutku, pas baik kepalaku maju mundur. Bunyi gluk-gluk becek dan desahanku tertahan memenuhi ruangan. Payudaraku diremas keras oleh tangan Nan tak kukenal, putingku dipilin hingga Saya menjerit pelan di antara kontol Nan menginput bibir.

Setelah puas, mereka angkat Saya ke meja santap kayu. Pak Joko berbaring di atas meja, menarikku melonjak ke atasnya bagian dalam letak cowgirl. Kontol tebalnya menghujam memasuki ke memekku bagian dalam Esa dorongan keras. “Ahhh… penuh sekali Mas…” jeritku. Andi dari belakang menginput kontol panjangnya ke lubang belakangku pelan tapi Niscaya. Double penetration lagi, tapi kali ini extra bagian dalam dikarenakan letak. Dedi tegak di Ambang, menginput kontol tebalnya ke mulutku. Tiga lubangku terisi sekaligus.

Mereka mulai Beralih Sesuai. Pak Joko menghantam dari bawah, Andi dari belakang, Dedi mengentot mulutku. Tubuhku digoyang-goyangkan seperti boneka rusak. Selera penuh bagian luar Normal Membikin kepalaku pusing Lezat. Memekku berdenyut keras, cairan squirt menyembur mula sekali setelah extra dari Esa menit, membasahi perut Pak Joko. “Lihat, jalang ini squirt lagi,” ungkapan Dedi Sembari terbahak keras. Mereka tak berhenti, malah makin ganas. Tangan Dedi meremas payudaraku keras, menampar pantat montokku hingga merah membara. Spanking berulang membuatku orgasme kedua, ketiga, keempat bertubi-tubi.

Mereka menukar letak. Saya dibaringkan telentang di lantai, kaki diangkat menjulang. Dedi melonjak ke atas, menginput kontol tebalnya ke memekku. Andi ke lubang belakang, Pak Joko kembali ke bibir. Triple penetration penuh, tiga kontol sekaligus menghancurkan tubuhku. Bunyi plok-plok becek sangat keras, bercampur jeritan tertahanku dan erangan mereka. amis keringat, air mani, dan lobangpipis becek memenuhi seluruh ruangan. Saya tak mendapatkan merenung lagi, hanya merasakan gelombang Lezat Nan tak tutup-hentinya.

Pak Joko melangkah keluar extra masa lalu, menyemburkan air mani panasnya ke Paras dan payudaraku. Andi membuntuti, creampie bagian dalam lubang belakangku hingga air mani menetes deras. Dedi Nan terakhir, mendorong bagian dalam-bagian dalam ke memekku, menyemburkan pas berlimpah sekali hingga rahimku terasa penuh dan emosi kehangatan. air mani menetes melangkah keluar dari kedua lubang bawahku, bercampur cairan memekku Nan licin. Saya orgasme terakhir hingga tubuhku kejang-kejang, squirt terakhir menyembur rapuh ke lantai.

Saya tergeletak lemas jumlah, tarikan napas tersengal, tubuh gemetar. air mani menutupi Paras, buah dada, perut, dan mengalir dari lobangpipis serta pantatku. Ketiganya tegak di atas, memandangku puas. Pak Joko mengusap pipiku Nan becek air mata dan air mani. “Anda bagian luar Normal sunyi ini, Lestari. Tapi ini belum penutup.”

Dedi tersenyum tipis lebar. “Besok sunyi Saya bawa dua temen lagi. Lima kontol Lakukan tubuh montokmu. Anda sedia kan, budak?”

Saya tak mendapatkan berucap, hanya mengangguk pelan Sembari menatap mereka berdua mata Nan telah Hampa tapi penuh nafsu. sunyi Nan merusakku ini telah menelan jiwaku sepenuhnya. Dan Saya tahu, besok sunyi akan extra suram, extra brutal, extra tak terkendali.

sunyi keenam setelah semuanya dimulai, Saya telah tak lagi menghitung. Tubuhku bukan milikku lagi. Setiap inci kulit putih mulusku penuh bekas: memar ungu di leher dari cekikan, cap jari merah di buah dada Akbar Nan saat ini terus sensitif, pantat montokku Nan masa lalu kenyal sekarang penuh garis-garis merah dari tamparan berulang, lobangpipis dan lubang belakangku bengkak permanen, terus becek meski tak disentuh. Saya tak lagi malu menyaksikan cermin. Saya hanya menyaksikan seorang Wanita Nan telah rusak, tapi anehnya, Saya tak Mau kembali ke kehidupan lebih masa lalu.

lafal JUGA : sunyi Nan MEMBAKAR DOSA

Pagi itu suamiku menelepon lagi. Suaranya terdengar Capek, tapi Eksis nada khawatir. “Lestari, Saya balik besok sunyi. Anda baik-baik saja kan? Suaramu aneh penutup-penutup ini.” Saya merespons pelan, “Iya Mas, Saya baik. cita Anda di Griya.” Setelah telepon ditutup, Saya terisak tenteram-tenteram. Bukan dikarenakan bersalah, tapi dikarenakan Saya tahu sunyi ini Ialah sunyi terakhir. Saya harus memutuskan: berikut atau berhenti tak berakhir.

Pukul delapan sunyi, ketukan di dubur extra keras dari Baju. Saya mengakses tak memakai tidak yakin. Pak Joko, Andi, Dedi, dan dua Pria anyar Nan mereka janjikan. Lima kontol, lima Pria Nan telah mengenal setiap lubang tubuhku. Mereka memasuki seperti pemilik Griya. Lampu Saya matikan jumlah, hanya Sinar purnama dari celah Nan menyelinap memasuki, Membikin jejak gelap tubuh mereka terlihat extra menakutkan dan menggoda.

“Anda telah sedia jadi mainan kami sunyi ini, Lestari?” selidik Pak Joko Sembari pas baik rambutku pelan. Saya mengangguk, Bunyi bergetar. “Ini sunyi terakhir. Besok suamiku balik. Setelah ini… berakhir.” Mereka terbahak pelan, tapi tak Eksis Nan menolak. Malah mata mereka makin lapar.

Mereka tak buang Masa. Saya langsung ditelanjangi, dibaringkan di lantai ruang tamu Nan adem. Dua Pria anyar—namanya Rian dan Budi—langsung merangsek. Rian tubuhnya paling menjulang, kontolnya lebar kurus tapi sangat lentur. Budi extra pendek tapi kontolnya Gendut, kepalanya Akbar seperti jamur. Mereka berlima mengelilingiku lagi.

Mulai dari bibir. Lima kontol bergantian memasuki ke mulutku, Esa per Esa, kadang dua sekaligus memaksa bibir tebalku ada lebar. Air liur menetes deras, bercampur precum Masin Nan memenuhi tenggorokanku. Saya tersedak berulang, tapi mereka tak Acuh. Tangan mereka meremas payudaraku keras, menampar pantatku, mencubit putingku hingga Saya menjerit tertahan.

Lampau mereka angkat Saya ke meja santap lagi. Pak Joko berbaring, Saya melonjak ke atasnya, kontol tebalnya menghujam memekku penuh. Andi dari belakang memasuki ke lubang belakang. Dedi menginput kontol tebalnya ke mulutku. Rian dan Budi bergantian meremas dan menjilat payudaraku, kadang menginput jari ke memekku Nan telah penuh, Membikin double penetration di bawah jadi triple. Selera penuh bagian luar Normal, tubuhku seperti akan robek, tapi nikmatnya membuatku orgasme pertama bagian dalam hitungan menit. Squirt menyembur deras, membasahi perut Pak Joko dan lantai.

Mereka menukar letak berkali-kali. Saya diangkat seperti boneka: standing sandwich, dua kontol di bawah (lobangpipis dan pantat), Esa di bibir, dua lagi di tangan dan buah dada. Saya mengocok dua kontol sekaligus Sembari digoyang-goyangkan. Bunyi plok-plok becek, desahan keras, tamparan pantat, cekikan leher, semuanya bercampur jadi simfoni nafsu. Saya orgasme berulang: kelima, keenam, ketujuh… Tiba Saya tak mendapatkan hitung lagi. Tubuhku kejang-kejang, squirt demi squirt membasahi lantai hingga licin.

pada akhirnya mereka bersiap klimaks. Esa per Esa mereka tarik melangkah keluar dan menyemburkan air mani gerah ke tubuhku. Pak Joko di wajahku, Andi di buah dada, Dedi di perut, Rian di pantat, Budi di paha bagian dalam. air mani menetes dari mana-mana, amis Masin kokoh memenuhi ruangan. Saya tergeletak di lantai, tubuh gemetar, tarikan napas tersengal, lobangpipis dan lubang belakangku melebar, penuh air mani Nan mengalir melangkah keluar pelan.

Mereka tegak di atas, memandangku puas. Pak Joko berjongkok, mengusap pipiku Nan becek air mata, air mani, dan keringat. “Anda bagian luar Normal, Lestari. Tapi kalau suamimu balik besok… apa Anda mendapatkan kembali normal?”

Saya menatapnya lamban, Bunyi serak. “Saya nggak tahu, Pak. Tapi sunyi ini… Saya telah hancur jumlah. Dan Saya nggak menyesal.”

Mereka kesana Esa per Esa setelah membersihkan diri. Griya kembali sunyi, hanya Bunyi gerimis gampang di bagian luar. Saya berbaring di lantai berjam-jam, tak Beralih. air mani mengering di kulitku, amis nafsu Tetap menempel. Besok suamiku balik. Saya harus bersih-bersih, membersihkan Griya, tersenyum tipis seperti Normal, berpura-pura semuanya baik-baik saja.

Tapi di bagian dalam dada, Saya tahu: sunyi Nan merusakku ini tak akan pernah presisi-presisi berakhir. Setiap kali Saya mengakhiri mata, Saya akan merasakan lagi Selera penuh, sakit Lezat, dan orgasme Nan tak terkira. Saya telah berubah tak berakhir. Dan suatu ketika kelak—mungkin besok, mungkin sebulan lagi—Saya akan merindukan ini lagi. Mungkin Saya akan mencari mereka. Mungkin Saya akan mengakses dubur tenteram-tenteram.

sunyi itu, Saya tertidur di lantai berdua tersenyum tipis Mini di bibir. Rusak, tapi puas.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *