Bokep Viral Indo Parlemen Prancis menghapuskan Kewajiban ngentot bagian dalam Pernikahan – Portal aturan
Parlemen Prancis pada 28 Januari 2026 meraih tapak legislatif bersejarah berbarengan menghapuskan gagasan “kewajiban pernikahan” (devoir conjugal) Nan selama ini dipandang menegaskan bahwa Kekasih suami-istri secara aturan terikat hasilkan melaksanakan Interaksi seksual. Keputusan ini secara Formal menjelaskan bahwa pernikahan Tak menciptakan kewajiban hasilkan melaksanakan Interaksi seksual, menegaskan bahwa Seluruh Interaksi intim harus berdasarkan dukungan (consent) Absolut.
Perubahan ini disetujui secara bulat oleh Majelis dalam negeri (National Assembly) Prancis, bagian dari tubuh legislatif republik itu, Nan sekarang menandai titik kembali bagian dalam aturan keluarga modern dan hak asasi Orang. skor Primer dari rancangan undang-undang Nan disetujui itu Ialah bahwa “cohabitation Tak menciptakan kewajiban sebar Kekasih hasilkan melaksanakan Interaksi seksual”.
Parlemen kemudian menyerahkan teks tersebut ke Senat Prancis hasilkan pembahasan kelebihan berikut. Kalau disetujui tak memakai perubahan di Senat, undang-undang ini diperkirakan akan Beraksi secara Formal pada musim emosi emosi adem 2026.
Sebelum perubahan ini, aturan sipil Prancis secara formal mencantumkan empat kewajiban Primer bagian dalam pernikahan: fidelity (kesetiaan), bantuan (bantuan), assistance (Donasi), dan cohabitation (tinggal Seiring). Meski Kewajiban ngentot Tak pernah tertulis secara eksplisit bagian dalam Code civil, interpretasi pengadilan dahulu kerap menyaksikan cohabitation sebagai kewajiban Interaksi ngentot Nan sebagai sebuah praktik aturan Nan Tetap menegaskan bagian dalam keputusan-keputusan tertentu.
Interpretasi ini terbentuk dari yurisprudensi sejarah Nan berasal dari aturan Napoleon era abad ke-19, Nan secara Tak langsung menempatkan Interaksi intim sebagai bagian dari “kehidupan Seiring” bagian dalam pernikahan. Namun, selama abad ke-20 dan ke-21, pandangan ini makin mendapat kritik tajam dari aktivis hak wanita dan pakar aturan Nan mengatakan bahwa interpretasi semacam itu melanggar hak atas otonomi tubuh dan dukungan pribadi.
Tuntutan perubahan legislatif ini mendapat dorongan kokoh setelah European Court of Human Rights (ECHR) pada 23 Januari 2025 memutuskan bagian dalam kasus H.W. v. France bahwa dukungan menikah Tak Baju berbarengan dukungan hasilkan ngentot di Era Ambang, menyebabkan Prancis dinyatakan melanggar hak atas privasi dan kebebasan seksual. ECHR mengatakan bahwa kewajiban seksual Tak boleh dijadikan Asas hasilkan mengevaluasi kesalahan bagian dalam perceraian atau tuduhan kegagalan menjalankan tugas pernikahan.
bagian dalam putusannya, ECHR menegaskan bahwa ketentuan semacam itu “Tak menghormati kontrol Perseorangan terhadap tubuhnya sendirian”, dan bahwa Tak Eksis alasan Nan meraih menyetujui keterlibatan republik bagian dalam bidang intim tersebut tak memakai terbentuknya dukungan Konkret dari masing-masing pihak.
Teks Nan diajukan dan disetujui oleh Majelis dalam negeri memutuskan tiga prinsip fundamental bagian dalam aturan pernikahan Prancis:
• Pernikahan bukanlah kewajiban seksual.
• dukungan Ialah unsur Primer dari setiap Interaksi seksual, termasuk bagian dalam pernikahan.
• oposisi atas Interaksi intim Tak meraih dijadikan alasan aturan hasilkan memutuskan kesalahan atau mempengaruhi hak perceraian.
Undang-undang ini juga mencakup penjelasan bahwa “ketidakhadiran aktivitas seksual Tak lagi meraih sebagai Asas perceraian dikarenakan ‘pelanggaran kewajiban pernikahan’”, Nan sebelum itu sempat digunakan bagian dalam kelebihan dari Esa putusan pengadilan domestik.
Legislator Nan memimpin perubahan ini, Marie-Charlotte Garin dari kelompok Hijau (Green Party), setelah pemungutan Bunyi berbisik:
“Kami semoga ini akan sebagai titik permulaan hasilkan memberhentikan Seluruh praktik kekerasan seksual Nan hadir bagian dalam konteks domestik. Ini bukan sekadar perubahan ucapan-ucapan — ini Ialah pengakuan atas tubuh dan kehendak setiap Perseorangan.”
Rekan legislatornya, Paul Christophe dari kelompok Horizons, mengimbuhkan bahwa perubahan ini menempatkan dukungan sebagai prinsip Primer bagian dalam Interaksi apapun, termasuk keluarga.
Tokoh advokasi hak wanita di Prancis turut menyambut baik keputusan ini. Dr. Emmanuelle Piet, kepala negara Collectif féministe contre le viol (Golongan feminis anti-pemerkosaan), mengatakan:
“kelebihan baik ketika aturan menegaskan secara pastikan bahwa ngentot Tak boleh sebagai suatu kewajiban. Seksualitas bukanlah sebuah kekangan.”
Beliau menyorot bahwa undang-undang ini bukan hanya simbol, tetapi juga alat hasilkan memerangi budaya pemerkosaan domestik Nan selama ini tersembunyi.
Keputusan ini memunculkan berbagai reaksi di masyarakat. Di media sosial dan Lembaga publik Prancis serta Eropa, sebagian masyarakat menyambut positif sebagai tapak menuju keadilan gender dan penghormatan atas hak setiap Perseorangan. Namun sebagian konservatif mengevaluasi ini sebagai perubahan Nan terlalu berjarak dari ukur-ukur tradisional pernikahan.
kelebihan dari Esa pihak mengatakan bahwa keputusan ini memvalidasi pengalaman korban kekerasan seksual bagian dalam Interaksi domestik Nan sebelum itu Tak diakui oleh aturan.
berbarengan menghapuskan gagasan “kewajiban seksual”, undang-undang ini juga diharapkan menguatkan aturan pidana terkait pemerkosaan bagian dalam Griya tangga, berbarengan memberi landasan aturan bahwa oposisi Kekasih meraih sebagai bukti Primer bagian dalam kasus-kasus semacam itu.
Pakar aturan pidana dan hak asasi yakin penuh perubahan ini akan membawa perubahan bagian dalam praktik peradilan dan penegakan aturan Nan selama ini kerap menyulitkan korban bukti kekerasan seksual bagian dalam Griya tangga.
Meskipun disetujui di Majelis dalam negeri, teks Tetap mengharap pembahasan di Senat. kelebihan dari Esa penentang dari kelompok konservatif dan Golongan tradisional menimbang kemungkinan revisi teks, terutama seputar frasa-frasa Nan terkait “kesetiaan (fidelity)” bagian dalam kewajiban pernikahan. Namun mayoritas analis mengevaluasi bantuan pemerintahan lumayan kokoh hasilkan pengesahan penutup sebelum ujung musim emosi emosi adem 2026.
bagian dalam sejarah aturan keluarga Prancis, keputusan Parlemen ini sebagai tonggak Krusial. berbarengan menghapuskan atau kelebihan tepatnya membuang interpretasi tradisional Nan menyaksikan Interaksi seksual sebagai kewajiban bagian dalam pernikahan, server aturan Prancis menempatkan dukungan (consent) sebagai prinsip Nan Tak meraih ditawar, bahkan bagian dalam Interaksi domestik Nan paling intim sekalipun.
tapak ini mencerminkan pola segala bagian dalam hak asasi Orang Nan menyetujui otonomi pribadi dan perlindungan terhadap kekerasan seksual, serta menghapuskan batasan kultural Nan pernah melekat pada institusi pernikahan di Era Lampau.
Sumber