Bokep Viral Indo Ratusan Wanita Dibius Pejabat Prancis, Bagaimana Dugaan Serangan ngentot terwujud?
Paris –
Peringatan! Artikel ini memuat deskripsi tentang kekerasan seksual Nan mungkin akan Membikin Anda Tak tentram!
“gua akurat-akurat rapuh. gua Tak mendapatkan merasakan kaki gua lagi,” ungkapan Anais de Vos.
“gua khawatir. gua Tak tahu apa Nan terwujud.”
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Juli 2011, Anais Nan ketika itu berusia 27 tahun menjalani tahap wawancara bagian dalam tahapan penerimaan kerja sebagai pegawai Kementerian Kebudayaan Prancis di Paris.
Anas bukan orang terbiasa seruput kopi. Namun ketika pewawancaranya, seorang pegawai negeri senior bernama Christian Negre, menawarinya kopi, Anas Tak menolak. Alasannya dikarenakan sopan santun.
Anais Berbicara, Negre Membikin sendirian kopi itu. “Rasanya Tak Lezat, jadi gua hanya seruput Sekeliling setengahnya,” ujar Anais kepada BBC semesta Women.
Wawancara itu terjadi di kantor Kementerian Kebudayaan. Setelah pas berlimpah orang menit, Negre menyarankan agar mereka berdua kesana ke eksternal.
ketika mereka Melangkah-jalur di jalanan Paris, Anais mulai merasakan kebutuhan Nan tak mendapatkan dijelaskan dan tak terkendali hasilkan buang air Mini.
Anais merasakan Tak tentram memberi tahu Negre bahwa ia Mau kembali ke kantor hasilkan memakai toilet, jadi Beliau berucap kepada Pria itu bahwa ia kedinginan sebagai alasan hasilkan kembali ke gedung.
Namun, ungkapan Anais, Negre kesana begitu saja, Lampau memerintahkan mereka ke tepi Sungai Seine. Di situ Anais Lampau berucap kepada Negre bahwa Beliau perlu segera menemukan toilet.
“Beliau menatap mata gua dan Berbicara, ‘Oh, apakah Anda perlu buang air Mini?'”
“gua merasakan seperti anak Mini. Kupikir tapak Beliau menatapku sangat aneh, Nyaris seperti sedang gembira,” ujar Anais.

Sekeliling 250 Wanita menuduh petinggi Kementerian Kebudayaan Prancis, Christian Negre, membius mereka antara tahun 2009 hingga 2018 (Grand Est Region & Bas-Rhin Prefect)
Anais Berbicara, Negre mengarahkannya ke realisasi masuk lemari penyimpanan di bawah jembatan di Sungai Seine.
“Anda mendapatkan melakukannya di sini,” ujar Anais menggandakan ungkapan-ungkapan Negre kepadanya ketika itu.
Anais Ialah keliru Esa dari Nyaris 250 Wanita Nan menuduh Negre membius mereka. Majemuk tuduhan itu diperkirakan terwujud antara tahun 2009 hingga 2018. Para Wanita itu menuding Negre membius mereka berbarengan Penawar-obatan.
Kejahatan berupa membius seseorang belakangan mencuat di Prancis pada 2024 bagian dalam kasus Gisele Pelicot. Suami Gisele Pelicot divonis 20 tahun penjara dikarenakan membiusnya, Lampau mengajak orang asing hasilkan memperkosanya ketika Beliau Tak sadarkan diri.
“gua mulai panik,” ungkapan Anais menggali memori kejadian pada Juli 2011.
“gua samar-samar menyaksikan Beliau mendorong gua ke bagian dalam ruangan dan menghentikan realisasi masuk di belakang gua,” ujarnya.
merasakan itu peristiwa tersebut “terlalu aneh”, Anais bersikeras bahwa mereka harus melangkah keluar dari Loka tersebut.
Anais dan Negre Lampau Melangkah ke Museum Louvre hasilkan memakai toilet keliru Esa Letak paling terkenal di Paris tersebut.
Masalahnya, ungkapan Anais, Beliau harus membayar Esa euro sebelum memakai toilet di Louvre, Fana Beliau meninggalkan dompetnya di kantor kementerian.
Negre Berbicara kepadanya bahwa Beliau juga Tak mempunyai Duit Kontan.
dikarenakan putus asa dan kesakitan dikarenakan Berjuang menahan buang air Mini, Anais menemukan sebuah kafe Nan mengizinkannya memakai toilet mereka.
“ketika itu gua merasakan sangat rapuh secara fisik,” ungkapan Anais.
ketika mendekati Bilik bersih-bersih, Anais kehilangan struktur dan mengompol.
menggali memori kembali kejadian itu, Anais merasakan terbatas lega dikarenakan Beliau buang air Mini di eksternal pandangan Negre.
“Setidaknya Beliau Tak menyaksikan gua,” katanya.
“gua sangat bersyukur hanya mengenakan gaun,” ungkapan Anais. busana itu membuatnya kelebihan praktis hasilkan menyembunyikan apa Nan telah terwujud.
Setelah tiga jam Seiring Negre, Anais berucap bahwa Beliau merasakan pusing dan Capek.

Museum Louvre di Paris, Prancis (Mohammed Badra/EPA/Shutterstock)
Di ujung tahap seleksi pegawai itu, Anais Tak mendapatkan pekerjaan Nan diincarnya.
Anais Mempunyai kecurigaan terhadap Negre, tapi Tak pernah mendapatkan mengetahui secara Niscaya apa Nan membuatnya merasakan sangat Tak tentram.
Anais merasakan insiden itu merusak kepercayaan dirinya. Pada tahun-tahun berikutnya, Beliau pada akhirnya menempuh jalur karier Nan sebenarnya Tak Beliau dambakan.
Pada 2019, Anais mendapatkan surat dari polisi. Anais diberitahu bahwa Beliau Ialah Esa dari Nyaris 200 Wanita Nan disinyalir telah beri Penawar bius oleh Negre selama wawancara kerja hasilkan letak di Kementerian Kebudayaan Prancis.
“gua kaget, tapi gua gembira mengetahui bahwa gua Tak gila. Sesuatu telah terwujud masa itu,” ujar Anais.
lafal artikel sebelum itu:
Para Wanita Nan disinyalir berperan korban kejahatan Negre telah melapor ke polisi. Para penyidik menduga Negre membius berbarengan diuretik, Penawar hasilkan sejumlah kondisi medis seperti tekanan Hipertensi. Penawar ini menyebabkan tubuh memproduksi urin berlebih.
Anais sempat merenung sejenak pada masa Beliau Berjumpa Ngre. Beliau menduga Negre telah mengisi sesuatu ke bagian dalam kopi Nan Beliau seruput.
Namun kala itu Beliau menepis sendirian pikirannya tersebut. Beliau Berbicara pada dirinya sendirian, “Ini Kementerian Kebudayaan. Itu Tak mungkin.”
‘Eksperimen P’
Anais Berbicara, polisi memberitahunya bahwa mereka menemukan berkas berisi sebutan orang di komputer milik Negre.
pendaftaran berjudul Eksperimen P itu disinyalir berisi sebutan para korban Negre.
catatan itu, ungkapan Anais, mencatat Masa kedatangan para Wanita hasilkan wawancara, Bilamana Penawar diuretik disalurkan, berapa lamban Masa Nan dibutuhkan sebelum mereka buang air Mini, dan busana bagian dalam apa Nan mereka kenakan.
Merujuk keterangan kepolisian, Anais sekarang yakin Selera aneh pada kopi Nan dibuat Ngre untuknya Ialah imbas diuretik.
Penyelidikan terhadap Negre dimulai Juni 2018, ketika ia tertangkap oleh seorang rekan kerja sedang memungut foto seorang Wanita dari bawah meja. Penangkapan itu dipublikasikan oleh Kejaksaan Prancis, Februari Lampau.
Negre awalnya diskors dari pekerjaannya sebagai direktur regional urusan budaya. Pada 2019 pada akhirnya Beliau dipecat.
Menurut kejaksaan, Negre pada 2018 Berbicara telah “menimbulkan situasi Nan memalukan distribusi Wanita” selama wawancara kerja.
pas berlimpah dari para Wanita penyintas itu berucap bahwa permulaan sekali mereka menyadari bahwa mereka mungkin telah berperan korban Ialah ketika polisi menghubungi mereka.
pas berlimpah orang di antaranya melapor ketika mereka menyaksikan Anais dan para korban lainnya bagian dalam laporan media.
Negre, Nan berusia 60-an tahun, saat ini sedang menjalani penyelidikan Formal atas sejumlah tuduhan, dari upaya pembiusan, pelanggaran privasi, dan pelecehan seksual. Beliau sedang mengharap persidangan.
BBC mengutarakan tuduhan Nan terdapat bagian dalam artikel ini kepada Negre, melalui pengacaranya, tapi Beliau menolak hasilkan berkomentar.

Marie-Helne Brice menyebut Negre membawanya ke kanal ketika wawancara kerja di Strasbourg. “Beliau Tak mengalihkan pandangannya dari gua,” ujar Marie (BBC)
Wanita lain Nan dikatakan bagian dalam catatan Negre Ialah Marie-Helene Brice.
Negre mewawancarai Marie-Helene hasilkan pekerjaan di Kementerian Kebudayaan pada tahun 2016 di Strasbourg, Loka ia bekerja ketika itu.
Negre ketika itu bilang bahwa Marie-Helene tampak stres. Negre Lampau menyarankan agar mereka Melangkah-jalur di eksternal kantor “hasilkan menenangkan saraf”.
Namun ketika mereka Melangkah-jalur di sepanjang kanal, Marie-Helene, seperti Anais, merasakan dorongan tak terkendali hasilkan buang air Mini, Nan menyebabkan Selera sakit.
Marie-Helene Berbicara, Negre memberitahunya bahwa Eksis toilet Biasa di tidak berjarak mereka. Namun ketika mereka Tiba di Letak tersebut, mereka Tak menemukan toilet.
“gua akurat-akurat mulai menderita Selera sakit seketika gua pucat pasi, air mata mengalir deras,” ungkapan Marie-Helene.
Marie-Helene Tak mempunyai opsi selain buang air Mini di Loka Biasa. Beliau berucap, Negre menghadirkan hasilkan melindunginya berbarengan jaketnya.
“gua sangat malu,” katanya. “Beliau Tak mengalihkan pandangannya dari gua.”
Marie-Helene merasakan malu selama bertahun-tahun. Seperti Anais, Beliau juga dihubungi oleh polisi Nan berucap kepadanya bahwa Beliau termasuk di antara para korban dugaan Negre.
“Itu sangat mengejutkan,” ungkapan Marie-Helene.
Pembiusan korban
Marie-Helene Berbicara, selain tekanan psikologis, Beliau juga merasakan masalah saluran kemih.
Meskipun kejadian tersebut mungkin Tak sesuai berbarengan pola Nan Baju dipikirkan orang bagian dalam kasus kekerasan seksual, Beliau Tak tidak yakin tentang apa Nan terwujud padanya.
“gua telah diserang, gua telah diracuni, gua telah diracuni, tapi distribusi gua ini Jernih merupakan kekerasan seksual,” ujarnya.
masalah pembiusan terhadap para Wanita juga digugat oleh Personil parlemen Prancis, Sandrine Josso.
Sandrine berperan juru sosialisasi korban pembiusan oleh senator Prancis Joel Guerriau. Joel dinyatakan bersalah oleh pengadilan pada 2026 dikarenakan mencampurkan ekstasi ke bagian dalam minuman Sandrine, berbarengan maksud melaksanakan kekerasan seksual terhadapnya.
Sandrine mengevaluasi selama ini Prancis belum pas mendukung Wanita Nan telah dibius dan menuntut para pelaku.

Sandrine Josso berada di kembali program percontohan di mana Wanita mendapatkan memungut sampel darah, urin, dan rambut hasilkan diuji keberadaan narkotik (BBC)
Sandrine berada di kembali program percontohan Nan dimulai tahun 2026. bagian dalam program itu, Wanita Nan mencurigai telah dibius mendapatkan memungut sampel darah, urin, atau rambut ke laboratorium hasilkan diuji, tak memakai harus mengajukan pengaduan Formal ke polisi.
“Orang-orang Beralih, korban kelebihan pas berlimpah memberitakan, mengajukan kelebihan pas berlimpah pengaduan, dan itu Krusial,” ungkapan Sandrine.
Namun upaya ini Mempunyai keterbatasan. Anais, Marie-Helene, dan pas berlimpah korban bagian dalam kasus Negre Tak curiga bahwa mereka telah dibius.
Kalau mereka Tak menjalani tes tak lamban setelah pembiusan, Unsur-Unsur Penawar bius itu Tak akan terlihat bagian dalam sampel darah dan urin mereka.
Narkotik mungkin mendapatkan dideteksi kelebihan lamban di rambut, tetapi seiring berjalannya Masa, makin Susah hasilkan memutuskan Bilamana Penawar tersebut disalurkan.
Penggunaan diuretik berbarengan tapak ini sangat Tak Normal, menurut Prof Jean-Claude Alvarez. Beliau menjalankan program percontohan di Griya Sakit Raymond-Poincare AP-HP.
Jean berucap, Beliau belum pernah menyaksikan hal seperti kasus Negre ini selama 26 tahun berprofesi sebagai Pakar toksikologi.
Laboratorium tersebut secara rutin menguji 400 Unsur kimia. “Sekarang di Prancis, kami sedang mencari diuretik,” ujarnya.

Profesor Jean-Claude Alvarez menguji sampel, termasuk rambut, hasilkan mendeteksi narkotik di laboratorium toksikologi (BBC)
Sekarang telah 15 tahun sejak pertemuan Anais berbarengan Negre dan tujuh tahun sejak Beliau permulaan sekali berbicara berbarengan polisi.
Seperti pas berlimpah Wanita Nan mengadu ke polisi, Anais frustrasi berbarengan lamanya Masa Nan dibutuhkan agar kasus Negre diajak ke pengadilan.
Fana itu, Negre Tetap berikut bekerja di bidang sumber daya Orang, menurut Fondation des Femmes, sebuah Golongan hak-hak Wanita Nan mendukung Sekeliling 30 Wanita Nan terkena imbas.
“Semuanya meresahkan dan gua emosi berbarengan tapak kami diperlakukan,” ungkapan Anais, Nan sekarang berusia 42 tahun.
Anais bilang, Beliau permulaan sekali berbicara berbarengan polisi pada tahun 2019. Namun Beliau Tak menyimak kabar apa pun tentang kasus tersebut hingga tahun 2023, meskipun telah menyerahkan surel kepada kepolisian berkali-kali.
“Selama empat tahun, gua sendirian berbarengan pengetahuan bahwa gua Ialah korban. gua Tak tahu harus berbuat apa,” katanya.
“gua sangat emosi berbarengan server peradilan,” ungkapan Anais.
Marie-Helene menguraikan penantian ini sebagai “viktimisasi sekunder”.
“Sebagai korban, gua harus membuktikan dampaknya, kesana ke psikiater, menulis catatan Spesifik,” ungkapan Marie-Helene.
Penundaan kasus ini Membikin apa Nan terwujud makin Susah ditanggung.
“Kami Tak terus merasakan kami sepenuhnya dianggap serius,” ujarnya.
Kalliopi Mingeirou dari UN Women berucap kepada BBC bahwa kuasa, polisi, dan server peradilan perlu berbuat kelebihan pas berlimpah hasilkan menyelesaikan pelecehan seksual Nan terwujud dikarenakan korban dijebak berbarengan narkotik.
Kalliopi bilang, pihak berwenang menjalani tantangan Nan sangat serius dan penundaan bagian dalam kasus dugaan pelecehan “menghancurkan kehidupan Wanita”.
BBC menginginkan polisi, peradilan, dan kuasa Prancis hasilkan menanggapi kritik atas penanganan kasus ini, tapi mereka Tak memberikan respons
hasilkan Masa Nan lamban, Marie-Helene tenteram Tiba Beliau berhenti merasakan malu.
“gua Tak perlu menyembunyikan diri. gua Ialah korban,” katanya.
“Krusial distribusi gua hasilkan berbicara di Ambang Biasa dikarenakan hal itu memungkinkan pas berlimpah orang korban hasilkan mengenali diri mereka sendirian, hasilkan mengetahui bahwa mereka Ialah korban dan hasilkan mengajukan pengaduan.
“Berbicara dibuka itu perlu di Bumi Loka kita Hayati, Krusial hasilkan membicarakan tentang seksisme dan kekerasan seksual,” ujarnya.

BBC
(nvc/nvc)